Fotografiana‎ > ‎6. Keahlian Khusus‎ > ‎

FOTO ILMIAH

oleh : Nofri Zardi Yanto dan Irfan Juliansyah

Forensic Photography

Sesuia namanya, Fotografi Forensik adalah “foto yang merekam objek, adegan, dan peristiwa untuk digunakan dalam suatu proses hukum. “Fotografi Forensik bisa digunakan secara spesifik untuk dokumentasi, analisis, intelejen, atau untuk presentasi di pengadilan. Satu hal penting, gambar yang digunakan di pengadilan harus mengikuti aturan-aturan pemaparan bukti-bukti sesuai yuridiksi yang berlaku di tempat tertentu.

Forensik fotografi dapat disebut juga sebagai pencitraan forensik atau fotografi TKP. Fotografi forensik yaitu seni mengahsilkan reproduksi yang akurat dari TKP atau kecelakaan menggunakan fotografi untuk kepentingan pengadilan dalam membantu penyelidikan. Fotogarafi forensik bagian dari proses pengumpulan bukti yang bertujuan menyediakan foto-foto korban, tempat kejadia, dan barang-barang yang terlibat dalam kejahatan. Melibatkan pencahayaan yang tepat, keakuratan lensa, dan berbagai sudut pandang yang berbeda-beda.

Gambar-gambar dalam fotografi forensik juga dapat digunakan untuk “mengekstrak” data forensik seperti pengukuran jarak, dimensi, lokasi, atau untuk mengungkap detail-detail yang tidak kasat mata (melalui sinar x, inframerah, ultraungu).

Fotografi forensik dihasilkan dari modernisasi sistem peradilan pidana dan kekuatan realisme fotografis. Pada abad ke-19 dan ke-20, adalah dua perkembangan yang signifikan pada fotografi forensik dan pekerjaan kepolisian pada umumnya.

Kejahatan atau kecelakaan yang terjadi, biasanya para fotografer forensik dalam merekam gambar menggunakan warna tetapi juga menggunakan warna hitam dan putih. Umumnya gambar warna lebih menjadi aspek yang terpenting dari jejak bukti, misalnya ada jejak cat atau pewarna yang dapat dibutuhkan menjadi bukti yang penting. Pengambilan foto dilakukan pada saat rekonstruksi ulang kejadian dilokasi kecelakaan atau kejahatan, untuk menunjukkan bagaimana kecelakaan atau kejahatan itu terjadi.

Diberbagai belahan dunia setiap negara memiliki kebijakan yang berbeda dalam hal film 35mm dan fotografi digital. Dari kedua jenis tersebut ada beberapa keuntungan dan kerugiannya. Pada foto film konvensional (film 35mm) bahkan ada yang memakai kamera sekali pakai, memiliki resolusi tinggi, yang memungkinkan pembesaran lebih rinci dari gambar sehingga gambar perlu perbesaran lebih dekat. Foto digital biasanya memiliki tanggal otomatis dan waktu pada masing-masing gambar sehingga keasliannya dapat diverifikasi. Hal yang terpenting dalam foto konvnsional adalah pengesahan oleh fotografer, biasanya dalam pernyataan saksi. Ini dikarenakan dalam foto konvensional tidak tertera waktu atau tanggal foto kapan diambilnya. Karena kemajuan teknologi digital dan perangkat lunak, digital single lens reflex (DSLR) semakin sering digunakan oleh lembaga penegak hukum.

Kemajuan terbaru dalam teknologi digital imaging sangat meningkatkan banyak aspek fotografi forensik. Digital imaging memungkinkan untuk menangkap, mengedit,output dan bahkan mentransfer gambar lebih cepat daripada pemprosesan film. Ada beberapa teknik yang tersedia menggunakan pencitraan digital yang sebenarnya tidak tersedia menggunakan cara tradisional. Salah satu teknik bagian fotografi forensik adalah kemampuan untuk mengoreksi perspektif dari suatu gambar.

Dalam fotografi forensik, dokumentasi tidak hanya sekedar penting tetapi menjadi bukti penting dari kasus-kasus yang dihadapi, detail dalam peningkatan hasil foto juga sangat menunjang, ini dikarenakan ada bebrerapa detail yang mungkin tidak terlihat oleh mata manusia, seperti bukti-bukti yang berukuran kecil sehingga diperlukan teknik khusus.


Bukti awal dokumentasi fotografi narapidana terjadi pada tahun 1843-1844 diBelgia dan 1851 di Denmark. Pada tahun tersebut hanya semata-mata eksperimen dan belum memiliki peraturan teknis atau hukum. Seorang fotografer Perancis bernama Alphonse Bertillon adalah orang pertama yang menyadari bahwa foto-foto yang diidentifikasi terasa sia-sia jika tiadak memiliki standar penggunaan skala cahaya yang sam serta sudutnya. Ia ingin mengganti dokumentasi fotografi tradisional kejahatan dengan sistem yang terstruktur dan akan menjamin kehandalan dalam identifikasi. Bertillon menyatakan ajaran potret komersial harus dilupakan dalam jenis fotografi. Pada pergantian abad, mulai diterima dan diperkenalkan baik sistem pengukuran dan aturan fotografi.

Pekerjaan sebagai seorang fotografer forensik merupakan daerak yang menarik dan pekerjaan yang cocok untuk para fotografer yang sangat terorganisir menggabungkan kemampuan teknis baik dengan praktek kerja, metode, dan ketelitian. Tugas lain fotografer forensik menghasilkan foto-foto akurat, rinci, dan jelas yang setia merekam lokasi kejadian dan seobjektif mungkin.

Fotografi forensik merupakan bagian dari prosedur investigasi kriminal yang digunakan oleh kepolisian dan pasukan keamanan diseluruh dunia. Para fotografi forensik harus mengikuti metodologi standar teknis yang sangat ketat sehingga dapat digunakan sebagai bukti dalam persidangan, pengadilan, dan proses pengadilan. Karena berhubungan dengan kecelakaan, cedera, atau investigasi kriminal. Fotografer forensik diharapkan dapat bekerja secara efisien dilingkungan menyedihkan dan menantang, tanpa mengganggu bukti lain atau pekerjaan penyelidik lainnya.

Fotografer forensik membutuhkan pemahaman menyeluruh tentang prinsip-prinsip fotografi, terutama yang melibatkan non-standar teknik, seperti intensitas tinggi dan pencitraan tingkat rendah udara, serta apresiasi terhadap pekerjaan mereka.

Sebuah foto forensik harus memiliki data seperti kapan dan dimana gambar diambil, siapa fotografernya, dan perlengkapan apa(lensa, body, filter, dudukan, dan lain-lain) saja yang digunakan dalam mengambil foto di TKP. Informasi mengenai posisi matahari atau bayangan mungkin akan diperlukan juga sebagai tambahan informasi tentang tanggal, waktu, atau musim. Dengan kata lain, Foto Forensik adalah sebuah disiplin ilmiah, yang penggunaannya harus mengikuti aturan, prosedur, dan protokol yang ketat.

pengaplikasian penggunaan fotografi forensik dan ilmu pengetahuan dilakukan oleh Tay Pail Bridge dibencana 1879. Saat ini peran fotografi dalam forensik dan ilmu pengetahuan telah dipergunakan dimana-mana. Baik untuk pengolahan TKP, reka ulang kejahatan, atau pengembangan data, ilmu, dan teknik forensik. Ilmu fotografi forensik sendiri memiliki porsi yang sangat besar didunia saat ini.#

Astrophotography

Astrophotography adalah garis khusus fotografi yang merekam gambar objek astronomi dan langit malam. Foto pertama objek astronomi (Bulan) diambil pada tahun 1840. Seiring perkembangan zaman dan teknologi, dalam perakaman objek pada masa sekarang dapat lebih rinci dan detail yang mampu merekam gambar matahari, bulan, dan planet-planet. Astrophotography juga memiliki kemampuan untuk merekam objek gambar yang tidak terlihat oleh mata manusia seperti bintang redup, nebula, dan galaksi.

Astrophotography memiliki peran awal dalam survei langit dan klasifikasi bintang, tapi seiring berjalannya waktu sudah mulai terdapat cara, peralatan yang lebih canggih dan teknik yang dirancang untuk penelitian ilmiah. Fotografi astroomi menggunakan eksposur yang panjang karena objek yang begitu jauh. Ini dikarenakan dalam perekaman gambar banyak terdapat cahaya-cahaya liar.

Karena berada diruangan lepas dengan berbagai bentuk cahaya yang terpancar, diperlukan satu cahaya yang harus lama terpancar sehingga objek yang akan direkam terlihat jelas. Fotografi astronomi adalah salah satu awal fotografi ilmiah dan diversifikasi ke subdisiplin yang berbeda-beda seperti kartografi bintang, astrometri, klasifikasi bintang, foto metri, spektroskopi, polarimetri, dan penemuan benda-benda astronomi seperti asteroid, meteor, komet, bintang variabel, novae, planet-palanet yang belum diketahui. Ini semua membutuhkan peralatan khusus dan juga filter khusus yang digunakan untuk merekam gambar dan panjang gelombang tertentu.
Pengaturan kamera untuk astrophotography

  • Shutter speed,ISO,Aperture
    jika shutter speed/rana terbuka lebih lama maka cahaya yang masuk lebih lama. Kecepatan rana berjalan dalam sepersekian detik, biasanya sekitar 1/1, 000 detik. pada kamera DSLR ada yang disebut dengan “bulb” kecepatan rana berjalan sepersekian detik biasanya, 1/1,000 detik. dalam kamera DSLR ada namanya mode “bulb”. bulb merupakan suatu teknik di fotografi dengan menggunakan speed yang lambat yang membuat tombol rana terbuka lama. jangan lupa pengaturan aperture dengan serangkaian nomor f/2.8, f/.4,,,,,f/5.6 dan seterusnya. semakin kecil angkanya semakin lama bukaan diafragmanya begitu sebaliknya. Dalam fotografi tradisional (film) ISO (atau ASA) adalah indikasi seberapa sensitif film terhadap cahaya. Ini diukur dalam angka (100, 200, 400, 800, dst). Semakin rendah angkanya, maka semakin rendah pula sensitivitas film dan gambar yang didapat semakin halus. Pada fotografi digital, ISO mengukur sensitivitas dari sensor.
  • Focus dalam fotografi, sebuah gambar yang fokus didapat dengan menempatkan kumpulan sinar pada satu titik yang tepat berada difilm atau disensor (disebut focal plane). Namun terdapat batas terdekat dimana lensa bisa mengunci fokus, sementara batas terjauh biasa disebut dengan infinity (tak terhingga).

kebanyakan CCD kamera yang dapat digunakan untuk astrophotography dapat diklasifikasikan sebagai berikut kamera digital konsumen, kamera video digital, kamera ewb CCD, Astronomi CCD kamera. Ada beberapa perbedaan dan keuntungan masing-masingnya. Kamera digital video seperti kamera digital standar memiliki kualitas dan teknologi yang rendah, menu-menunya lebih sedikit dan terbatas dalam pengambilan gambar single frame. Kamera digital web cam yang memiliki kemampuan video karena bisa langsung terhubung ke PC dan memiliki resolusi yang terbatas seperti 640 x 480 atau malahan lebih rendah dari itu. Dengan dilakukan beberapa modifikasi dan dikombinasikan dengan teleskop. Astronomi kamera CCD adalah perangkat yang banyak digunakan oleh astrophotographers yang dirancang khusus untuk astrophotography. Salah satu perbedaan utama yang membedakan dari kamera jenis lainnya adalah kemera ini didinginkan untuk meminimalkan “pixel panas” atau “noise” yang ditimbulkan oleh panas dalam chip CCD.

canon adalah produsen pembuat kamera DSLR khusus untuk astrophotography dengan adanya peningkatan kepekaan hidrogen alpha yaitu kamera pertamanya adalah EOS 20Da. Namun disayangkan Canon menghentikan produksi kamera tersebut pada tahun 2006. Untuk sementara waktu para penggila astrophotography yang ingin membeli kamera tersebut harus gigit jari karena tidak lagi tersedia dalam kemasan baru. Akan tetapi kehadiran Canon EOS 5D Mark II dinilai mumpuni karena memiliki keseimbangan antara kinerja dan kegunaan. Bahkan akhir-akhir ini tidak perlu ditakutkan lagi Canon kembali memperkenalkan produk terbarunya ke publik terkhusus penggiat astrophotography adalah Canon EOS 60Da.

settingan kamera astrophotography adalah sebagai berikut program mode manual begitu pula autofokus juga dimatikan, drive atur ke satu tembak, ISO yang digunakan adalah 1600 atau 800, dalam hal mettering umumnya tidak menjadi persoalan tetapi untuk pengambilan gambar bulan atau matahari kita dapat mencoba pengaturan ke spot, shutter speed yang dipakai hingga 30detik atau bahkan lebih disebut juga dengan bulb karena paparan eksposure yang lama.

untuk pengambilan gambar pada astrophotography diperlukan lensa yang memiliki bukaan kecil seperti f/2.8 karena membutuhkan bukaan diafrgama yang panjang karena objek yang diambil sangat jauh. yang paling penting adalah lensa zoom. ada beberapa jenis perbedaan kamera yaitu DSLR yang memiliki kontrol penuh terhada aperture, ISO, dan juga memiliki sensor yang sangat besar. lensa DSLR dapat diganti sehingga dapat mempermudah dalam hal memilih lensa mana yang cocok untuk setiap objek yang berbeda. astronomi CCD kamera

ada berbagai jenis astrophotography dan kamera yang digunakan juga berbeda sesuai jenis astrophotography :

  • Astrophotography Scenic mencakup wide-angle seperti bulan sabit di sore atau Bima Sakti. Foto-foto fenomena atmosfer, seperti aurora juga termasuk didalamnya. kamera yang digunakan adalah DSLR.

  • Fotografi Planetary meliputi Matahari, Bulan, dan planet-planet dari tata surya. Fotografi Planetary membutuhkan resolusi tinggi untuk memilih detail kecil di planet seperti Jupiter dan Mars, serta kawah kecil di Bulan dan rincian di bintik matahari. Kamera yang digunakan adalah webcam dan komputer karena kedalaman objek sangat diperlukan.

  • DEEP SKY (kedalaman langit) yang termasuk kedalam ini adalah Bintang cluster, nebula dan galaksi. Benda-benda ini memerlukan eksposur panjang dan kamera low-noise.#



pertanyaan :
1. jelaskan mengapa foto digital lebih banyak dipergunakan sebagai hasil foto forensik!
2. apa yang menjadi alasan Alphonse Bertillon memperkenalkan sistem pengukuran
    dan aturan fotografi forensik? Jelaskan !
3. Mengapa dalam astrophotography ketika akan mengambil sebuah objek harus
    menggunakan exposure yang panjang?Jelaskan!
4. Sebutkan subdisiplin dari fotografi imiah dari Astrophotography!
 

sumber :

- http://en.wikipedia.org/wiki/Forensic_photography
- http://www.westchestergov.com/labsresearch/forensicandtox/forensic/photo/forphotoframeset.htm
- http://www.creativeskillset.org/photo/careers/photographers/article_3424_1.asp
- http://www.knotphotogenic.com/informative-guide-forensic.html
- http://en.wikipedia.org/wiki/Astrophotography
- http://sekawan-servis-electronic.blogspot.com/2011/10/astrophotography.html
- http://cakrawala-upi.blogspot.com/2011/05/astrophotography.html
- http://www.astropix.com/HTML/I_ASTROP/TOC_AP.HTM


Comments