Fotografiana‎ > ‎6. Keahlian Khusus‎ > ‎

Forensic photography

Pengertian Forensic photography

Fotografi Forensik adalah foto yang memvisualisasikan sebuah objek, adegan, dan peristiwa sebagai bukti guna digunakan dalam suatu proses hukum. Fotografi Forensik ini bisa digunakan secara spesifik untuk dokumentasi, analisis, intelejen, atau untuk presentasi suatu kejadian di pengadilan. Disamping itu, gambar yang digunakan dalam suatu proses hukum di pengadilan harus sesuai fakta, serta harus mengikuti aturan-aturan yang sesuai dengan yuridiksi di tempat tersebut.

Fotografi Forensik dapat disebut juga pencitraan forensik atau fotografi TKP (Tempat Kejadian Perkara). Fotografi forensik menghasilkan reproduksi yang akurat dari TKP atau kecelakaan, guna untuk kepentingan pengadilan dalam membantu penyelidikan. Fotografi forensik merupakan bagian dari proses pengumpulan bukti yang bertujuan menyediakan foto-foto korban, tempat kejadian, dan barang-barang yang terdapat dalam kejahatan. Melibatkan pencahayaan yang tepat, keakuratan lensa, dan berbagai sudut pandang yang berbeda-beda. Fotografi forensik dibagi menjadi tiga, yaitu: fotografi autopsi, fotografi TKP dan fotografi teknik.

Selain itu, gambar-gambar fotografi forensik dapat digunakan untuk “mengekstrak” data guna mengungkap detail-detail yang tidak kasatmata melalui sinar x, inframerah, dan ultraviolet. Data-data tersebut seperti pengukuran jarak, dimensi, lokasi.

 

Metode pencahayaan untuk memotret bukti

Metode pencahayaan berikut ini berlaku untuk memotret berbagai bukti untuk dipelajari. Efek harus terlebih dahulu ditinjau untuk memilih teknik pencahayaan terbaik untuk subjek bukti.

1. Pencahayaan langsung. Pencahayaan langsung menggunakan pencahayaan salinan normal dengan satu atau lebih sumber cahaya pada sudut 45 derajat.Cahaya dipantulkan langsung dari subjek ke lensa. Tempatkan subjek pada sudut 10 derajat dari lensa untuk latar film dan menempatkan sumber cahaya di sudut 10 derajat dari subjek. Sumber cahaya mencerminkan pada sudut 20 derajat ke arah lensa. Sumber cahaya mungkin perlu disebarkan untuk mencegah hot spot. Metode ini menciptakan kontras yang sangat tinggi.

2. Pencahayaan reflektif langsung. Cahaya dipantulkan langsung dari subjek ke lensa. Tempatkan subjek pada sudut 10 derajat dari lensa untuk latar film dan menempatkan sumber cahaya di sudut 10 derajat dari subjek. Sumber cahaya mencerminkan pada sudut 20 derajat ke arah lensa. Sumber cahaya mungkin perlu disebarkan untuk mencegah hot spot. Metode ini menciptakan kontras yang sangat tinggi.

3. Pencahayaan oblique. Pencahayaan oblique menggunakan sumber cahaya pada sudut yang rendah, biasanya untuk menampilkan detail dengan menciptakan bayangan di permukaan subjek. Hal ini umumnya digunakan ketika memotret tayangan, tanda alat dan beberapa jenis sidik jari.

4. Pencahayaan memantul. Cahaya memantul permukaan reflektif atau putih. Permukaan pantul dapat ditempatkan pada lokasi yang berbeda (di atas atau ke satu sisi subjek) untuk menciptakan efek yang diinginkan. Ini biasanya menghasilkan rata yang tidak menyilaukan bahkan dengan kontras rendah.

5. Pencahayaan menyebar. Bahan buram ditempatkan antara sumber cahaya dan subjek untuk menyebarkan cahaya. Hal ini biasanya menghasilkan pencahayaan bahkan dengan mengurangi refleksi dan hot spot.

6. Pencahayaan transmisi. Dengan subyek transparan sumber cahaya ditransmisi kan melalui subjek menuju lensa. Sudut pencahayaan ditransmisikan dan disesuaikan dari 90 derajat sampai 45 derajat untuk efek yang diinginkan.

7. Pencahayaan sumbu dan arah depan. Sepotong jelas kaca ditempatkan di antara subjek dan lensa pada sudut 45 derajat. Sumber cahaya diposisikan sejajar dengan tempat film dan 45 derajat ke kaca. Sementara cahaya ditransmisikan melalui kaca, beberapa tercermin ke bawah langsung pada subjek. Teknik ini efektif bila memotret sidik jari dicermin pada gelas atau cangkir.

Comments