Teknik Khusus

Oleh : Andi Fitriyanne

AVAILABLE LIGHT

Available light biasa disebut dengan istilah “cahaya seaadanya”. Pasti anda yang membaca bertanya tanya, apakah maksud dari cahaya seaadanya itu? Dalam pokok bahasan ini saya akan mencoba menjelaskan pengertian dari cahaya seaadanya atau yang sering disebut dengan available light.

Available light pada dasarnya adalah keminiman cahaya. Minimnya cahaya dalam suatu situasi atau kondisi ini membuat para fotografer berlomba-lomba membuat karya masterpiece dengan penggunaan available light. Cahaya alam seperti matahari dan bulan merupakan sumber cahaya paling utama yang biasa digunakan dalam pemotretan di luar ruangan atau outdoor. Selain cahaya alam, terdapat juga sumber cahaya lain yang dapat menjadi sumber cahaya misalnya lampu, api dan sebagainya.

Dalam prakteknya cahaya alam biasanya tidak dapat dikontrol sepenuhnya oleh sang fotografer, kalau pun bisa biasanya hanya sebagian kecil saja. Dengan kondisi tersebut, Anda harus dapat memperkirakan kapan waktu yang paling tepat untuk melakukan pemotretan sesuai dengan konsep pemotretan yang Anda inginkan untuk mendapatkan pencahayaan yang terbaik. Khusus untuk pemotretan siang hari, yang mempengaruhi kualitas cahaya matahari adalah posisi matahari, keadaan awan, dan cuaca.

Jika ingin melakukan pengambilah gambar dimalam hari atur setelan ISO 1600, F/5.6, Exposure time ⅙ sec, Matering mode spot, White balance manual, dan Color Manual. Ini hanyalah salah satu contoh pengaturan trik pengambilan gambar dengan kondisi cahaya seaadanya. Namun, jika Anda mengambil gambar pada siang hari ISO yang Anda gunakan bisa anda perkecil antara 100 atau 200 (tergantung kondisi cahaya), aperture bisa anda perkecil dengan exposure time yang dipercepat.

Demikianlah penjelasan mengenai pengambilan gambar dengan cahaya seaadanya yang bisa saya paparkan.

FOTO: AVAILABLE LIGHT

https://picasaweb.google.com/101892356364789624380/EBook#5805342991189084274

PENCAHAYAAN PANGGUNG

Pencahayaan panggung merupakan salah satu kategori dari available light. Karena kebanyakan tata cahaya panggung tidak menggunakan cahaya yang memadai. Namun, dalam konser-konser besar tata cahaya panggung yang digunakan biasanya sangat memadai. Sebenarnya tata cahaya panggung tergantung dengan konsep acara itu sendiri. Pencahayaan panggung biasanya menggunakan tone yang bermacam-macam. Lampu yang menjadi sumber cahaya pun biasanya berwarna warni. Itulah sebabnya mengapa pencahayaan pada panggung berbeda dengan pencahayaan pada umumnya yang biasanya menggunakan lampu studio dan flash.

Sebenarnya pencahayaan panggung memiliki nilai seni tersendiri di mata para fotografer. Dengan permainan warna cahaya yang dipadukan, pastilah akan menghasilkan gambar yang spektakuler. Pencahayaan panggung di setting sangat istimewa guna membuat para penonton terpukau akan megahnya panggung tersebut. Maka dari itu Anda harus dapat menghasilkan gambar yang spektakuler jika Anda sedang hunting pada suatu konser.

Dalam pokok bahasan ini saya akan mencoba membagi beberapa trik dan cara untuk melakukan pengambilan gambar dengan menggunakan cahaya panggung, diantaranya adalah:

1. Siapkan peralatan fotografi Anda

Sebelum Anda hunting ke sebuah konser, Anda harus mempersiapkan peralatan yang dibutuhkan dalam proses pengambilah gambar tersebut. Biasanya dalam sebuah konser alangkah baiknya Anda menggunakan lensa tambahan yang lebih besar bukaannya. Misalnya lensa dengan bukaan f1.2, f2 , atau f2.8. semakin lebar bukaannya semakin memudahkan kita mengatasi tatacahaya panggung yang minim. Anda juga bisa menggunakan lensa yang menggunakan penahan getaran. Bawalah tripod ataupun monopod jika diperlukan. Karena dengan cahaya panggung yang minim tripod atau monopod sangat membantu untuk mengurangi guncangan tangan ketika kita memencet tombol kamera. Terutama jika kita menggunakan lensa panjang atau tele dimana guncangan sedikit saja bisa menghasilkan foto yang blur.

2. Siapkan diri sebaik mungkin

Gladiresik merupakan salah satu moment terpenting yang bisa Anda gunakan untuk pengambilah gambar. Sebenarnya jika Anda datang disaat acara gladiresik Anda pasti akan mendapatkan hasil gambar yang tidak kalah bagus disaat konser berlangsung nanti.

Dengan datang disaat gladiresik, kita akan mengetahui alur jalannya pertunjukan saat konser berlangsung nanti. Disitulah Anda dapat mencatat momen-momen penting dimana saat terbaik Anda bisa mengambil gambar.

Ketika gladiresik biasanya ada beberapa adegan yang diulang dalam rangka adjusment posisi, blocking pemain, timing, dan lain-lain. Pengulangan adegan ini bisa kita manfaatkan maksimal dengan bergerak ke berbagai posisi untuk mendapatkan angle terbaik. Disaat gladiresik biasanya penonton tidak terlalu banyak, maka ketika kita bergerak kesana kemari tidak akan menggangu penonton. Ini adalah salah satu keuntungan ketika memotret disaat gladiresik berlangsung.

3. Trik teknis mengklik tombol kamera

Karena tata cahaya panggung itu biasanya menggunakan lampu spot maka pencahayaanya tidak rata. Biasanya pangung didominasi latar gelap dengan penekanan cahaya pada pemain dengan lampu spot. Berbahaya kalau kita memotret panggung dengan ukuran cahaya rata-rata, karena yang terukur adalah bidang yang dominan gelap sehingga pengukur cahaya di kamera kita meminta waktu eksposure yang lebih lama. Hal ini menyebakan bagian-bagian yang terkena spot cahaya akan terlihat lebih terang artinya akan menghasilkan foto yang over eksposure pada pemainnya (bukan pada latar gelapnya). Kelebihan cahaya menyebakan banyak detail yang hilang dan itu mempengaruhi kualitas gambar.

Kalau tetap ingin mengunakan ukuran cahaya rata-rata maka breketlah. Pengalaman saya sendiri kadang breket yang dibutuhkan bisa, mencapai 2-3 stop, atau minimal 1 stop. Tergantung dominan atau tidaknya bidang gelap terang di atas panggung. Semakin banyak gelapnya maka breketnya pun semakin tinggi. Dengan mengurangi waktu eksposure 1-3 stop maka kita bisa mendapat speed yang tinggi. Speed yang tinggi bisa membuat ‘freeze’ adegan yang kita ambil, ini keuntungan lainnya.

Alternatif lain adalah dengan mengunakan ukuran cahaya titik(spot), bukan rata-rata. Tapi hati-hati, karena warna juga mempengaruhi lamanya waktu ekspoure. Warna biru atau merah membuat waktu eksposure menjadi lebih singkat. Warna hitam membuat waktu eksposur menjadi lebih lama. Yang dikhawatirkan ketika kita menggunakan pengukuran cahaya titik (spot), bidang yang kita ukur adalah warna-warna yang memperngaruhi kecepatan eksposure seperti yang saya sebutkan tadi (dan pula tatacahaya panggung bermacam-macam warna dan selalu berubah-ubah). Kalau itu terjadi tetap bisa menghasilkan foto yang over eksposure atau under eksposure. Hati-hatilah jika menggunakan metode pengukuran cahaya titik (spot) ini. Perhatikan betul warna obyek yang kita jadikan target pengukuran cahaya.

Sebenarnya panggung itu sudah mempunyai standar tersendiri baik dari ukurannya, jarak lampu ke panggung, kekuatan setiap lampu dan sebagainya. Ada range tertentu kekuatan lampu antara yang lemah sampai yang kuat. Perhatikan dengan seksama kapan lampu yang lemah dinyalakan dan kapan lampu yang kuat dinyalakan. Ukurlah eksposure tatacahaya yang terlemah dan yang terkuat. Kalau sudah dapat waktu eksposure cahaya terkuat dan yang terlemah, kita bisa menggunakan range eskposure sekitar itu ketika memotretnya. Dengan begitu kita sudah punya patokan bahwa kalau adegan di cahaya terlemah saya harus menggunakan speed sebesar ini dan adegan di cahaya terkuat speed sebenar ini. Maka kita tak terlalu direpotkan dalam mengukur cahaya sehingga bisa lebih efesien.

FOTO: PENCAHAYAAN PANGGUNG

https://picasaweb.google.com/101892356364789624380/EBook#5805343035385835618

FOTO MALAM HARI

Dari beberapa teknik khusus dalam fotografi, yang paling banyak mengalami kesulitan saat memotret adalah di malam hari. Mengapa demikian? Karena pada malam hari cahaya yang tersedia sangatlah minim, oleh sebab itu ada beberapa tips yang bisa Anda terapkan dalam pemotretan di malam hari.

1. TIMING

Timing merupakan salah satu tips yang sangat penting untuk Anda ketahui. Jika Anda ingin memotret di luar ruangan pada malam hari, pilihlah waktu yang tepat, yaitu sesaat setelah matahari terbenam. Karena saat itu merupakan salah satu momen yang sangat pas untuk diabadikan. Langit masih menyimpan pendaran cahaya yang bagus. Apalagi jika ingin menambah tekstur cahaya di foto Anda.

Pemotretan disaat ketika bulan purnama atau bulan tinggi juga merupakan salah satu momen yang pas. Dengan pengaturan speed shutter yang tepat, Anda akan menghasilkan kualitas gambar malam yang indah.

2. PERALATAN

Peralatan pembantu yang dapat menunjang pemotretan saat malam hari adalah tripod dan remote shutter. Tripod berguna untuk menahan kestabilan kamera Anda. Akan lebih baik lagi jika Anda menggunakan remote shutter atau kabel shutter. Karena bagaimana pun juga Kamera dengan kecepatan shutter yang rendah diperlukan untuk mengambil gambar di malam hari, untuk mendapatkan pasokan cahaya sebanyak mungkin. Karena itu kamera Anda akan sangat rentan terhadap goyangan.

3. CUACA

Anda harus mengetahui ramalan cuaca sebelum Anda akan melakukan pemotretan. Kalau bisa hindari pengambilan gambar jika cuaca yang diramalkan akan turun hujan. Karna hujan dapat membuat seorang fotografer kerepotan dalam proses pengambilan gambarnya. Namun tdak ada salahnya jika Anda ingin mengambil gambar di cuaca yang kurang bagus, karena badai petir dan awan yang cerah akan membuat subjek yang spektakuler.

Sedikit tips saat melakukan pemotretan dimalam hari, Set shutter speed pada B-shutter speed atau shutter held open. Artinya shutter akan dipertahankan membuka selamat waktu exposure hingga 1 detik. Disarankan juga agar Anda membawa fixed-local lens, dengan kisaran dari 28mm ke 135mm minimum. Dengan posisi SLR terpasang ke tripod, setting juga pada ISO rendah (100 atau 200). Masih berhubungan dengan cuaca, perhatikan kondisi sekeliling objek. Hindari pengambilan gambar di bawah pohon yang berpotensi roboh.

4. FLASH

Saat pengambilan foto dimalam hari penggunaan Flash harus di hindari. Gantilah penggunaan flash dengan menggunakan tripod dan cahaya buatan untuk menggantikan flash. Jika Anda menggunakan cahaya flash, objek yang akan Anda potret akan terlihat palsu.

5. Exposure dan Aperture

Gunakan kecepatan shutter yang lamban untuk memungkinkan lebih banyak cahaya yang masuk pada foto Anda. Exposure dua sampai tiga detik akan menghasilkan gambar yang lebih bagus. Dengan lebih lamanya exposure, gunakanlah aperture yang lebih kecil untuk menghindari setiap over-exposing dari lampu stasioner dalam gambar. Sebaliknya, jika Anda menembak dengan shutter-speed yang lebih singkat, gunakan aperture yang lebih besar untuk menghindari noise gerak pada foto Anda.

6. ISO

Anda bisa menggunakan ISO yang tinggi saat pemotretan dimalam hari (1600-3200). Tetapi, periksalah terus menerus hasil foto Anda, apakah tidak ada tekstur kasar atau grainy pada foto Anda. Jika ada berarti hasil potretan Anda masih kurang bagus. Ulangi kembali pengambilan gambar objek dengan menyesuaikan kembali pengaturan ISO, Exposure, serta Aperture Anda.

7. Matikan fitur Anti-Shake.

Jika Anda sudah memakai Tripod, maka non-aktifkanlah fungsi Anti-Shake (Anti-Goyang). Karena jika kamera stabil, fungsi-fungsi ini dapat memberikan efek goyang yang otomatis walaupun sebenarnya tidak ada goyangan di sekitar objek yang akan dipotret.

8. Perhatikan Keamanan

Memotret malam hari di luar ruangan tentu tidak lebih aman dibandingkan pemotretan siang hari atau pun pemotretan di dalam ruangan. Dengan cahaya yang minim Anda tidak akan dapat mengontrol barang–barang yang jatuh atau pun yang hilang. Untuk mensiasati kondisi ini, bawalah senter atau lampu penerang, bila perlu bawalah pembantu atau asisten. Dengan itu Anda akan lebih berkonsentrasi dengan kegiatan fotografi Anda.

FOTO: MALAM HARI

https://picasaweb.google.com/101892356364789624380/EBook#5805343230425807330

BENDA BERGERAK DAN EFEK GERAK BUATAN

Mengambil gambar pada objek yang bergerak tentulah lebih sulit dibandingkan mengambil gambar pada objek yang diam. Mengapa demikian? Objek yang bergerak tidak dapat difokuskan layaknya objek diam. Untuk memfokuskan objek bergerak memerlukan beberapa trik. Untuk itu dalam pokok bahasan ini saya akan membahas tips dan trik memotret objek diam.

Untuk dapat berhasil memotret objek bergerak dibutuhkan kombinasi sistem lensa/kamera yang menunjang serta teknik memotret yang baik. Teknologi saat ini memungkinkan kamera DSLR untuk memotret objek bergerak.

Kamera memiliki beberapa titik autofocus, yang biasanya membentuk formasi seperti berlian. Titik-titik autofocus ini bisa berjumlah 3, 9, 11 bahkan lebih. Selalu ada titik autofocus yang berada paling tengah. Titik-titik autofocus ini memiliki sensitifitas yang berbeda-beda. Titik fokus yang berada di tengah biasanya yang paling sensitif. Artinya, dalam kondisi redup cahaya sekalipun titik autofocus yang berada ditengah biasanya masih berhasil mendapatkan fokus, sementara dengan titik-titik autofocus yang lainnya sistem akan gagal mendapatkan fokus.

Dalam sistem pengaturan kamera DSLR terdapat setelan untuk mengubah sifat sistem autofocus (AF), ada yang menyerupai tombol geser/switch dan ada juga yang melalui menu. Ada tiga setelan autofocus, pertama adalah single, kedua adalah continuous dan ketiga adalah off/manual. Untuk mengambil objek benda bergerak setelan autofocus yang kita butuhkan adalah sistem continuous autofocus (continuous AF).

Sistem continuous autofocus akan mulai bekerja ketika tombol shutter setengah ditekan, untuk mencari fokus pada titik autofocus yang ditentukan. Setelah fokus tersebut didapat kamera tidak akan berhenti memonitor pergerakan objek pada titik autofokus tersebut. Apabila jarak antara kamera dengan objek berubah maka sistem autofokus akan langsung menyesuaikan dengan jarak yang baru. Dengan demikian diharapkan objek selalu dalam fokus sempurna. Sistem inilah yang kita butuhkan untuk memotret objek yang bergerak.

Berikut adalah beberapa hal penting yang harus dijaga selama pemotretan objek bergerak:
Shutter Speed

Jagalah kecepatan shutter speed cukup tinggi bila Anda ingin Objek yang Anda potret memberikan efek “beku/diam”. Beberapa contoh shutter speed yang diperlukan untuk membekukan gerakan objek yang sedang bergerak, misalnya:

· Orang berlari, gunakan Shutter 1/100

· Burung yang sedang terbang, gunakan shutter 1/1000.

Shutter speed dapat lebih ditingkatkan lagi dengan menaikkan ISO. Hindarilah penggunaan AUTO ISO, karena semakin tinggi ISO yang digunakan, semakin “noisy” gambar yang dihasilkan. Lebih baik mengatur sendiri ISO yang akan Anda gunakan.
Zoom

Bila Anda menggunakan zoom, jagalah ukuran objek dalam pandangan anda, bila objek mendekati maka anda harus memundurkan zoom dan sebaliknya jika objek menjauhi maka anda harus memajukan zoom.
Auto Focus

Jagalah objek agar tetap berada pada titik autofocus yang telah Anda pilih.
Blur

Ketiga poin ynag telah dibahas sebelumnya merupakan kiat-kiat yang dilakukan untuk mencegah blur dan “out of focus” pada objek bergerak di dalam sebuah foto. Blur ataupun “out of focus” kadang dapat memberi dimensi dan efek lain. Ada baiknya jika Anda membuat efek blur di sekitar objek yang akan Anda potret. Dengan demikian hasil foto Anda akan terlihat lebih sempurna.

Walaupun dengan sistem kamera canggih sekalipun tetap saja trik ini punya keterbatasan. Tidak selamanya hasil pemotretan akan menghasilkan foto yang tajam walau kita sudah mengikuti semua aturan. Gerakan objek yang terkadang berubah tiba-tiba, kondisi cahaya di lapangan, merupakan beberapa faktor yang dapat mempengaruhi pemotretan Anda. Ambilah beberapa foto sekaligus agar Anda bisa mendapatkan gambar terbaik Anda.

FOTO: BENDA BERGERAK DAN EFEK GERAK BUATAN

https://picasaweb.google.com/101892356364789624380/EBook#5805343247680081282

DAFTAR PERTANYAAN:

  1. Jelaskan apa yang dimaksud dengan available light?
  2. Berapa standar ISO yang biasa digunakan untuk memotret di malam hari?
  3. Saat memotret cahaya panggung diperlukan lensa dengan bukaan yang besar, mengapa demikian?
  4. Hal-hal penting yang harus dijaga selama pemotretan objek bergerak adalah?
Comments